Mental Health, Pentingkah Bagi Generasi Z ?
Mental Health, Pentingkah Bagi Generasi Z ?
Apa arti sehat menurutmu? Apa ketika
kamu segar bugar tidak terbaring di ranjang dan tidak minum obat? Apa sehat
hanya dikaitkan dengan keadaan fisik ? Sehat
mencakup dua hal. Yaitu sehat secara fisik dan psikis. Namun bukankah
selama ini orang hanya berfokus pada kesehatan fisik saja? Kesehatan psikis
atau mental, hal yang banyak orang abaikan karena tidak tampak. Namun apakah
yang tidak tampak tidak memiliki dampak? Mari kita bahas!
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),
kesehatan mental adalah keadaan sejahtera di mana seseorang menyadari
kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan hidup yang normal, dapat bekerja
secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya. Atau
secara singkatnya kesehatan mental adalah tingkatan kesejahteraan psikologis
atau ketiadaan gangguan jiwa dalam diri seseorang.
Kondisi kesehatan mental dipengaruhi
oleh berbagai hal. Seseorang yang kesehatan mentalnya sedang terganggu biasa
disebut penderita gangguan mental.contoh gangguan kesehatan mental antara lain
stress, depresi, gangguan kecemasan, bipolar, ADHD (Attention Deficit and
Hyperactivity Disorder),psikosis dan masih banyak lagi. Sayangnya sebagian
besar orang tidak menyadari bahwa dirinya sedang menderita gangguan mental. berikut
adalah gejala gangguan mental:
- Selalu merasa tertekan dan sedih
- Merasa cemas dan khawatir
- Mengalami kesulitan tidur/ pola tidur tidak teratur
- Emosi yang meledak-ledak
- Perubahan pada berat badan dan nafsu makan
- Pendiam dan menarik diri dari lingkungan
- Perubahan mood dalam waktu lama
- Sulit untuk berkosentrasi
- Perubahan perilaku ekstrem
- Tak memperdulikan penampilan dan kebersihan.
Mengapa
bisa terjadi gangguan mental? Gangguan mental disebabkan oleh dua faktor, yakni
:
Faktor biologis (atau disebut
gangguan mental organik)
· Infeksi, misalnya akibat bakteri Streptococcus.
· Kelainan bawaan atau cedera pada otak.
· Kerusakan otak akibat terbentur atau kecelakaan.
· Kekurangan oksigen pada otak bayi saat proses persalinan.
· Memiliki orang tua atau keluarga penderita gangguan mental.
· Penyalahgunaan NAPZA dalam jangka panjang.
· Kekurangan nutrisi.
Faktor psikologis
· Peristiwa traumatik, seperti kekerasan dan pelecehan seksual.
· Kehilangan
orang tua atau disia-siakan di masa kecil.
· Kurang
mampu bergaul dengan orang lain.
· Perceraian
atau ditinggal mati oleh pasangan.
· Perasaan
rendah diri, tidak mampu, marah, atau kesepian.
Seberapa
burukkah akibat dari gangguan mental?
Menurut
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap 40 detik ada satu orang di dunia ini
yang bunuh diri. Menurut Survei Global Health Data Exchange tahun 2017
menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Direktur
Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian
Kesehatan RI, dr Fidiansyah, Sp.Kj, menyebut, setiap hari setidaknya ada lima
orang yang bunuh diri."Usia paling banyak (melakukan) bunuh diri itu 15
sampai 29 tahun, generasi milenial".
Perlu digaris bawahi dari hasil
survey diatas menunjukan bahwa paling banyak kasus bunuh diri karena gangguan
mental adalah usia remaja, usia 15-29 tahun yaitu Kaum Milenial atau Generasi
Z. Hal tersebut menandakan kaum remaja/milenial/generasi z lah yang rentan mengalami
gangguan mental. Hal tersebut terjadi karena Remaja merupakan fase peralihan
dari anak menuju dewasa sehingga terjadi banyak perubahan. Mulai dari perubahan
secara fisik, hormonal, kognitif atau kecerdasan, emosi dan perilaku. Tak
jarang dalam fase peralihan tersebut membuat remaja menghadapi keadaan atau
masa sulit yang belum dijumpainya ketika mereka masih anak-anak. Gangguan
mental yang sering dialami yakni depresi,stress,dan gangguan kecemasan. Hal
tersebut tentunya sangat mengganggu ketika melakukan aktivitas sehari-hari
hingga berpengaruh jangka panjang. Membuat mereka tidak bisa mengeksplor lebih
banyak lagi tentang potensinya. Padahal Kaum Milenial/Generasi Z lah yang
merupakan generasi penerus bangsa, pemimpin bangsa kelak.
Dengan demikian, kesehatan mental
sangatlah penting untuk semua orang, terutama untuk Remaja/Kaum Milenial/Generasi
Z karena merekalah kaum yang paling rentan terkena gangguan mental. Mereka
sangat memerlukan kesehatan fisik dan mental yang optimal untuk mencapai mimpi
dan cita-cita mereka, dan menjadi generasi emas penerus bangsa yang diharapkan
mampu memajukan Negara Indonesia.
Untuk itu, kita harus lebih memperhatikan tentang kesehatan mental kita, jika kita memiliki indikasi menderita gangguan mental, maka sebaiknya kita segera berkonsultasi kepada psikiater supaya segera memperoleh penanganan. Dan jika tidak memiliki indikasi gangguan mental, kita harus menjaga kesehatan mental kita supaya tidak terganggu seperti saat kita menjaga kesehatan fisik supaya tidak sakit. Bagaimana caranya:
1. Love Yourself. Yaitu mencintai diri kita sendiri, artinya kita menerima segala kelebihan dan kekurangan kita. Tidak membandingkan diri kita dengan orang lain sehingga kita bisa terhindar dari perasaan insecure dalam diri dan membuat kita menjadi lebih percaya diri.
2. Miliki pola pikir yang positif. Yaitu kita harus meyakini bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja, segala masalah dan rintangan mampu diselesaikan dan dihadapi. Sehingga kita tidak akan over thinking yang membuat pikiran kita terbebani.
3. Lakukan olahraga untuk menjaga kesehatan mental, seperti yoga,meditasi,dan lain lain untuk membuat otak dan tubuh rileks.
4. Bergaul di lingkungan yang positif. Artinya jangan bergaul dengan orang-orang ‘toxic’. Pilih lingkungan yang baik dan mendukung dirimu.
5. Istirahat cukup dan lakukan hobi.Sepenat apapun harimu, sempatkan untuk tidur dalam waktu yang cukup dan memiliki me time dengan menjalankan hobi yang kamu sukai, sehingga penat yang kamu rasakan dapat berkurang.
Sekian
paparan dari saya mengenai Pentingnya Kesehatan Mental terutama bagi Generasi
Milenial/Generasi Z.
Terimakasih
sudah membaca. Semoga sehat selalu !!!
Ikan
hiu makan tomat, Semoga bermanfaat J
Sumber
:
https://www.alodokter.com/kesehatan-mental
https://www.hipwee.com/narasi/mental-health-seberapa-pentingnya-itu/
Bagaimana dengan tugas yang banyak dan menggunung? apakah itu baik utnuk mental health? atau justru merusak mental dan health sekaligus? wkwkwk
BalasHapus